LINTASPOST.ID, BONE BOLANGO – Upaya mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan di Provinsi Gorontalo dinilai perlu terus diperkuat dengan mengantisipasi berbagai persoalan yang dihadapi petani, terutama dampak musim kemarau dan keterbatasan ketersediaan air.
Hal tersebut mengemuka dalam Talkshow Refleksi Hari Tani 2026 bertema “Mengurai Tantangan Pertanian Menuju Ketahanan Pangan Gorontalo” yang digelar di Koma Caffe, Kelurahan Moutong, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang dihadiri sekitar 120 peserta dari unsur masyarakat, mahasiswa dan petani tersebut menjadi ruang diskusi untuk mengidentifikasi berbagai persoalan pertanian sekaligus mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, mahasiswa dan petani dalam menghadirkan solusi yang adaptif terhadap kondisi di lapangan.
Kepala Jurusan Agroteknologi, Dr. Sutrisno Hadi Purnomo, menyampaikan bahwa musim kemarau yang berlangsung cukup panjang memberikan tekanan terhadap sektor pertanian, terutama akibat berkurangnya debit air.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar wilayah Gorontalo merupakan kawasan pertanian, sementara sejumlah petani masih melakukan aktivitas tanam di lahan dengan kondisi kering.
Ia menilai keberlanjutan produksi pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan maupun jumlah produksi, tetapi juga kemampuan petani mempertahankan produktivitas ketika menghadapi keterbatasan sumber daya, khususnya air.
Sementara itu, Dosen/Akademisi Wawan Pembengo menekankan pentingnya memadukan pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi risiko kekeringan yang terjadi di sektor pertanian.
Menurutnya, sejumlah langkah dapat dilakukan, mulai dari penyediaan air melalui pompanisasi, perbaikan saluran irigasi, pembangunan embung, penerapan sistem pengairan yang efisien, penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan hingga pengaturan waktu dan pola tanam.
Dalam jangka pendek, petani juga dapat mempertimbangkan tanaman dengan masa panen yang lebih cepat. Namun, apabila kekeringan berlangsung dalam waktu yang lebih panjang, diperlukan penguatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi air agar kebutuhan pertanian tetap dapat terpenuhi.
Selain persoalan air, forum tersebut turut menyoroti tingginya biaya operasional pertanian serta terbatasnya regenerasi petani.
Koordinator BPP Bulango Timur, Mohammad Harun, menyebut sebagian besar petani saat ini telah berusia lanjut. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya keterlibatan generasi muda untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian di masa mendatang.
Menurutnya, penerapan pertanian modern dapat menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan Indeks Pertanaman dan produksi pangan. Pemanfaatan teknologi dan pola tanam yang lebih efisien diharapkan mampu membuat lahan pertanian menghasilkan produksi secara lebih optimal sekaligus memperkuat cadangan pangan daerah.
Dari sisi pemerintah, upaya meminimalkan dampak kekeringan terus dilakukan melalui optimalisasi infrastruktur yang tersedia, pengaturan distribusi air hingga pembangunan jaringan irigasi.
Kabid Ketahanan Pangan, Misbar Bulotio, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah mengusulkan pembangunan sebanyak 20 unit jaringan irigasi untuk mendukung aktivitas pertanian.
Selain infrastruktur, pemerintah juga memfasilitasi kebutuhan sarana pertanian bagi petani, mendorong pemanfaatan pekarangan untuk tanaman hortikultura serta menjalankan program Gerakan Pangan Murah dan operasi pasar sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan sekaligus keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Dalam forum tersebut, keterlibatan mahasiswa, khususnya mahasiswa Agroteknologi, juga dinilai memiliki peran penting dalam menjawab berbagai tantangan pertanian.
Mantan Ketua HMJ Agroteknologi Universitas Negeri Gorontalo, Adrian Ngabito, mendorong mahasiswa agar tidak hanya memahami persoalan pertanian melalui kajian akademis, tetapi juga membangun koordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas teknis untuk menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan.
Menurutnya, berbagai persoalan seperti irigasi, efisiensi biaya produksi, penerapan teknologi pertanian, pengelolaan hasil panen hingga pemanfaatan lahan dan pekarangan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Melalui kegiatan tersebut, penguatan swasembada pangan dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran dalam menyediakan kebijakan dan infrastruktur, akademisi menghadirkan pengetahuan serta teknologi, sementara petani menjadi pelaku utama produksi.
Di sisi lain, mahasiswa dan generasi muda dapat mengambil peran melalui inovasi sekaligus mendorong regenerasi sektor pertanian.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan Gorontalo, bukan hanya dari sisi peningkatan produksi, tetapi juga melalui keberlanjutan usaha tani, ketersediaan air, peningkatan kesejahteraan petani serta pembangunan sistem pertanian yang mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi iklim.
Dengan demikian, momentum Hari Tani 2026 tidak hanya menjadi ruang refleksi terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi petani, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mendorong lahirnya gagasan dan inovasi baru guna memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu fondasi ketahanan pangan daerah.










